Siang ini aku bercakap-cakap dengan Kecewa. Kebetulan dia mampir. Sudah seminggu ini memang kulihat dia beberapa kali melintas di depan rumah, tapi tidak pernah mampir. Kupikir, ah, mungkin dia sedang ingin pergi ke rumah tetangga. Jadi aku tidak pernah memanggilnya. Sampai siang ini dia mampir.
Kami ngobrol sebentar. Dia harus segera pergi, katanya. Jadilah kami bicara singkat - tentang kekhawatirannya bahwa ia akan harus mampir lagi kemari besok, bahwa Harapan akan datang besok bersamanya, dan mungkin hanya ia yang menemaniku besok sore. Aku katakan padanya, jangan khawatir, tidak apa kalau memang kalian berdua mau datang besok.
Kecewa pun pamit.
Aku merenung. Mereka berdua akan mampir besok.
Memang kami seringkali pergi berdua. Hampir selalu, bahkan. Tapi lebih sering dia pergi, dan aku yang tinggal menemani orang-orang, keluhnya tadi.
Memang, Harapan sedikit sombong. Kecewa lah yang lebih rendah hati di antara keduanya.
***
Baru selesai mencuci piring malam ini, pintu diketuk. Sebentar, jawabku. Aku berjalan, mengintip dari jendela. Ternyata Kecewa. Dan Harapan. Aku membukakan pintu untuk mereka. Hai, sapaku. Hai, sapa mereka.
Kuseduh sepoci teh hangat, kami minum bertiga dan mengobrol lagi. Maaf, kami mampir lebih cepat. Kupikir kami akan mampir besok, tapi kelihatannya kami harus mampir hari ini, kata Kecewa. Tak apa, kalian bisa mampir kapan saja kok, jawabku.
Hm, kita cukup sering bertemu ya, kata Harapan.
Ya, aku sering memanggilmu untuk mampir ke rumah, memang. Kupikir kita bisa ngobrol lebih lama. Siapa tahu kamu bisa tinggal lebih lama di sini.
Tapi tidak bisa, kan kamu tahu itu. Banyak yang menginginkan kehadiranku. Dan aku bukan hanya milikmu seorang.
Ya, aku tahu. Tapi, kehadiranmu selalu menyenangkan. Kadang membuatku merasa betah di rumah dan selalu merasa bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi aku bukan hanya milikmu seorang. Aku tidak bisa tinggal lama di sini, dan hanya ngobrol denganmu. Kamu kan tahu, banyak yang menginginkan kehadiranku.
Ya.
Ah, sudah larut. Aku pergi dulu.
Aku membukakan pintu untuknya keluar. Kulihat punggung Harapan berjalan menjauh.
Maafkan dia ya, kata Kecewa, sambil memegang pundakku.
Tidak apa. Sudah biasa kan, dia begini?
Kami duduk. Bersebelahan. Tidak lagi ngobrol, karena kami sudah tahu apa yang ada di benak masing-masing.
Tak berselang lama, pintu diketuk lagi. Siapa, tanyaku dalam hati, seraya melangkah ke pintu. Ternyata Sakit. Dia datang. Padahal malam sudah larut.
Malam itu pun kami habiskan bertiga. Tanpa banyak kata.

mbhhauhauhauahuaha… and look at wittle twilight…
(via heckyeahup, movieoftheday)
*sniffs* T_____________T
sniffs indeed. weepy moments..
Click! Lego’s new iPhone apps and program. :)
Mario’s Wardrobe